Rabu, 10 Agustus 2011

Perpisahan playgroup ibnu khaldun








Selengkapnya...

Jumat, 03 Juni 2011

parade hari [pendidikan nasional

Selengkapnya...

Senin, 08 November 2010

KESALAHAN ORANG TUA DALAM MENDIDIK ANAK

vBanyak orang tua yang tidak memperhatikan tindakan dan prilaku mereka terhadap anak anak mereka mungkin saking sayang nya banyak orang tua yang over dalam tidakannya, baik dalam menanggani anak maupun dalam tindakan sehari har, ini beberapa tip dan tindakan yg wajib di perhatikan oleh para bapak bapak dan ibuk ibuk para orang tua,
1. Tidak konsisten
Dalam menetapkan jadwal kegiatan sehari hari pada anak seperti jadwal mandi, makan, tidur atau menonton tv, antara kedua orang tua dan pengasuh anak harus terdapat komunikasi dan kesepakatan yang sama serta konsekuensi yang akan diberikan bila anak tidak mematuhi jadwal tersebut Dan yang paling penting adalah tetap konsisten serta disiplin dalam menetapkan peraturan tersebut, termasuk orang tua dan orang dewasa di sekitar anak juga ikut konsisten melaksanakan peraturan tersebut.
2. Kurang memberikan waktu untuk keluarga
Memberikan waktu luang untuk bermain bersama anak sangat bermakna artinya bagi anak meskipun hanya sekedar bermain di lantai rumah bersama. Kebersamaan dan kedekatan harus selalu terjaga untuk mempererat ikatan antara anak dan orang tua.
3. Memberikan terlalu banyak bantuan
Terlalu banyak memberikan bantuan pada anak kadang akan membuat anak tidak mandiri dan manja sehingga menghilangkan kemampuan yang seharusnya dapat berkembang sendiri pada anak. Selalu memberikan bantuan pada anak secara tidak langsung akan memberi pesan bahwa anak tidak mampu melakukan hal tersebut dan anak butuh bantuan. Seperti selalu menyuapi makan anak, memakaikan baju dan membantu dalam menyelesaikan permainan anak. Akan lebih baik bila anda memberi petunjuk sambil tetap membiarkan anak mencoba sendiri melakukan berbagai hal tersebut. Dan berikanlah pujian bila anak berhasil melakukannya sendiri
4. Menjelaskan terlalu banyak
Membangun komunikasi adalah hal yang baik, tetapi kadang untuk penerapan disiplin anak belum terlalu mengerti alasan alasan dibalik kebijakan atau peraturan yang Anda buat dan kadang Anda tidak perlu terlalu banyak menjelaskan, yang perlu anda lakukan adalah tetap konsisten
5. Hanya memberi jenis makanan yang sama
Bila anak menjadi pemilih makanan yang hanya mau jenis makanan yang itu itu saja, tetaplah kenalkan jenis makanan lain dengan cara ikut memberi contoh makan bersama anak serta variasikan jenis penyajian makanan yang disukai anak. Jangan pernah berputus asa karena beberapa anak butuh ribuan kali mencoba sampai akhirnya menyukai makanan tersebut.
6. Mengeluarkan dari boks bayi terlalu cepat
Terlalu cepat memindahkan balita dari boks bayi ke tempat tidur biasa dapat menyebabkan balita Anda sulit tidur dan akhirnya anak harus selalu ditemani orangtuanya ketika tidur. Jadi kapan sebaiknya anak harus dipindahkan dari boks bayi ke temapt tidur biasa? yaitu ketika anak sudah siap sendiri ditandai dengan anak meminta sendiri untuk tidur di tempat tidur biasa atau biasanya ketika anak sudah berusia 2 atau 3 tahun
7. Memaksakan segera bisa menggunakan toilet sendiri
Segala sesuatu yang dipaksakan akan berakhir sia sia, tugas Anda adalah membimbing dan melatih anak secara bertahap untuk mencapai kemampuannya sendiri. Dengan cara mengenalkan penggunaan toilet dan Anda sendiri yang memberi contoh penggunaannya. Biarkan anak melihat dan mengikuti Anda, Kemudian berikan pujian dan semangat ketika anak sudah mulai mencoba menggunakan toilet sendiri. Dan jangan kuatir bila anak masih memakai popok saat usia mencapai 4 tahun, karena tidak ada anak yang akan memakai popok terus sampai kuliah nanti
8. Membiarkan terlalu banyak menonton TV atau main game
Balita yang terlalu banyak menonton TV akan lebih banyak mengalami kesulitan dalam proses pembelajarannya di kemudian hari. Dan bahkan berdasarkan penelitian anak dibawah usia 2 tahun sama sekali tidak boleh menonton televisi karena mereka sendiri belum bisa mengerti apa yang ditampilkan di TV atau komputer. Akan lebih baik bila Anda memberikan kegiatan yang dapat merangsang perkembangan otak balita Anda, karena perkembangan otak balita maksimal sampai usia dua tahun. Kegiatan sederhana tesebut bisa berupa mengajak bercerita balita anda, membaca atau bermain bersama. Semakin sedikit anak terpapar di depan televisi atau komputer semakin baik
9. Menghentikan amukan 
Kadang orang tua merasa bila anak bertindak di luar kontrol akan memberikan kesan bahwa mereka adalah orang tua yang tidak dapat mendidik anak. Tetapi sebenarnya setiap anak mempunya episode ledakan emosi yang tak terkendali atau ‘tantrum” bila sudah terjadi maka merupakan hal yang sia sia untuk menghentikannya. Bila amukan anak ini terjadi di depan umum, tetap bersikap tenang dan jangan terpancing emosi, bawa anak Anda ke tempat lain dan cobalah memeluk anak anda dan menenangkannya dengan baik, memarahi anak untuk menghentikan tantrum adalah hal yang sia sia.
sumber
//www.kaskus.us/showthread.php?t=5857497" Selengkapnya...

Kamis, 09 September 2010

Menyambung kasih, merajut cinta,
beralas ikhlas, beratap DOA.
Semasa hidup bersimbah khilaf & dosa,
berharap dibasuh maaf.
Sebelum Ramadhan pergi, Sebelum Idul fitri datang
...
Jika raga tak bisa bersua, bila kata tak sempat terucap.
Mohon Maaf lahir bathin.
Semoga pintu maaf masih terbuka.
Selamat Idul Fitri


Selengkapnya...

Minggu, 15 Agustus 2010

Ajarkan Minta Maaf pada anak,

"Manusia adalah gudangnya kesalahan," begitu bunyi pepatah bijak. Namun demikian, bukan berarti meminta maaf atas kesalahan menjadi hal mudah, termasuk bagi anak-anak usia sekolah. Agar anak mau meminta maaf, berikut 6 langkah yang dapat orangtua terapkan pada anak.

1. Beri kesempatan pada anak untuk mengungkapkan masalahnya.
Galilah dari diri anak apa yang membuatnya tidak mau/menolak meminta maaf. Baik orangtua maupun guru harus bersikap netral, tidak berpihak kepada pelaku ataupun korban. Jika berpihak, dikhawatirkan pemulihan hubungan keduanya akan semakin sulit.

2. Tidak memaksa anak meminta maaf.
Sering dijumpai orangtua yang memaksa anaknya untuk minta maaf, " Ayo,kamu minta maaf sekarang sama adik!" Sebetulnya, cara seperti ini tidak benar dan dapat menekan anak. Semakin dipaksa untuk meminta maaf, semakin sulit bagi anak untuk melakukannya. Karena paksaan merupakan sesuatu yang tidak menyenangkan maka hal itu tak akan diulangi lagi. Atau, kalaupun mau, anak akan meminta maaf dengan terpaksa, tidak tulus.

3. Tumbuhkan empati pada anak.
Cara terbaik dengan menumbuhkan empatinya. "Kamu sudah memukul adik seperti itu. Coba, kamu pikirkan kalau kamu yang diperlukan seperti itu, bagaimana rasanya?" Mungkin anak tidak akan langsung menjawab atau berkomentar saat itu juga dengan mengatakan, "Tidak enak", misalnya. Tapi setidaknya anak tahu, perbuatan telah membuat orang lain menderita, terganggu, atau tersakiti.

Anda harus bisa memahami, perbuatannya itu tidak baik. Dia juga harus merasakan apa yang orang lain rasakan. Anak harus melihat dampak yang dia lakukan pada anak lain, bagaimana perasaan orang tersebut, dan sebagainya.

4. Berikan dorongan
Contoh, "Ibu akan senang kalau kamu mendengarkan keluhan orang lain dan kamu mau mengubah perilakumu. Ibu berharap kamu juga bisa meminta maaf atas perbuatan yang sudah kamu lakukan pada temanmu." Harapan semacam ini tidak memberi kesan memaksa dan sok berkuasa, melainkan mengajari anak untuk bersikap terbuka dan membuatnya berpikir. Apalagi di usia ini anak sudah bisa diajak berpikir mengenai konsekuensi.

5. Kenalkan aneka cara meminta maaf
Ada berbagai cara meminta maaf, baik secara langsung maupun tidak. Ada yang lewat salaman tangan, rangkulan, sentuhan, dan cara lainnya, atau yang terbaru dengan SMS, e-mail, chat, komentar maaf di jejaring sosial seperti Facebook, Friendster, dan lain-lain.

Anak tahu mana yang plaing tepat dan cocok. Biasanya dengan dibebaskan mengemukakan pendapatnya, anak akan menemukan banyak ide. Kecuali jika anak memang tak tahu caranya, maka orangtua mempunyai kesempatan untuk memberi masukan.

6. Beri toleransi waktu
Hindari menyuruh anak meminta maaf di saat itu juga. Orangtua memang harus menunggu hingga anak mau melakukannya dengan tulus tanpa terpaksa. Selanjutnya, jika anak sudah siap, orangtua bisa menjadi perantara, membantu anak untuk meminta maaf dan mendamaikan kedua anak yang berseteru.
Sumber invirasi :c4mcoel.blogspot.com
Selengkapnya...

Rabu, 21 Juli 2010

SELAMAT DATANG GENERASI BARU ANAK ASUH/DIDIK KELOMPOK BERMAIN IBNU KHALDUN PATI
Selamat Belajar Bermain Dan Bersukaria. Selengkapnya...

Senin, 31 Mei 2010

mengatasi kebiasaan Ngompol pada anak

Tip menuntaskan kebiasaan mengompol pada si kecil.

Meskipun disebut anak-anak, pada dasarnya peristiwa mengompol bagi mereka tetaplah sesuatu yang menggangu rasa percaya diri. Dan sebagai orang tua, kita harus bisa meyakinkan mereka bahwa mengompol merupakan masalah yang biasa terjadi dan bantu mereka mengatasi masalah tersebut.

Berikut beberapa tip untuk mendampingi si kecil mengatasi masalah mengompol mereka :
1. Fokus pada inti masalah, yaitu mengompol. Hindari menyalahkan atau menghukum si kecil. Kita perlu ingat, anak tidak dapat mengendalikan kapan mereka mau mengompol atau tidak. Menyalahkan atau memberikan mereka hukuman malah hanya akan memperburuk masalah.

2. Pupuk rasa sabar dan suportif. Berikan keyakinan dan dukungan penuh pada si kecil sesering mungkin. Jangan membuat isu atau permasalahan baru setiap kali anak kita mengompol.

3. Tegakan “dilarang mengejek” dalam peraturan keluarga. Jangan biarkan orang di dalam dan di luar keluarga kita diperbolehkan mengejek si kecil mengenai kebiasaan mengompolnya. Dan jangan pernah mendiskusikan masalah ini di depan anggota keluarga yang lain.

4. Dorong rasa tanggung jawab anak. Bantu si kecil untuk mengerti keberhasilannya mengatasi masalah mengompol bukalah untuk kita tapi demi diri mereka sendiri. Yakinkan anak kita bahwa kita akan selalu berada disamping mereka dalam mengtasi masalah ini. Selain itu, ikut sertakan si kecil dalam proses pembersihan seprai atau tempat tidur yang sudah terkena ompol mereka.

5. Mudahkan proses pembersihan. Untuk meningkatkan kenyamanan dan mengurangi kerusakan, gunakan seprai yang mudah menyerap serta mudah dicuci, bed cover anti air, dan pengharum ruangan.

6. Kurangi asupan air di malam hari. Jangan berikan anak kita minuman 2 jam sebelum mereka tidur. Dan biasakan si kecil untuk pergi ke kamar mandi terlebih dahulu sebelum naik ke atas tempat tidur.

7. Biasakan pipis di malam hari. Dibanding kita terpaku dalam memastikan apakah si kecil tetap “kering” sepanjang malam, lebih baik kita bantu mereka mengerti mengenai pentingnya bagun setiap malam untuk pergi ke toilet. Pastikan juga si kecil mendapatkan akses yang mudah ke kamar mandi, seperti pencahayaan yang baik atau menyediakan pispot di kamar.

8. Berikan mereka penghargaan. Metode pemberian “hadiah” kepada si kecil terhadap pencapaian mereka memang merupakan cara yang sangat ampuh. Berikan striker setiap kali mereka berhasil tetap kering hingga pagi, dan si kecil bisa mengumpulkan stiker tersebut lalu menukarkannya dengan hadiah menarik yang kita sudah sediakan.artikel di ambil dr etalaseilmu.wordpress.com
Selengkapnya...